Cerpen ‘IMLEK DAN KEPALA IKAN BANDENG BUAT IBU’

GAMBARIMLEK-03

IMLEK DAN KEPALA IKAN BANDENG UNTUK IBU
Oleh: Keyzia Chan
Sepasang biji mataku tidak beranjak dari pemandangan miris itu. Tak ada yang aku lakukan selain melihat sambil mengerutkan dahi. Seorang laki-laki berbadan tambun, berkepala botak terlihat sibuk. Bukan para tamu-tamu yang hadir di rumah makannya yang membuatnya nampak gusar. Tetapi, seorang bocah bertubuh kurus, berpakaian kusam telah berhasil membuatnya demikian emosi. Laki-laki bermata sipit tersebut terus menceracau. Tangannya belum beranjak dari telinga bocah itu. Pemandangan tersebut mencuri perhatianku sehingga menunda melahap menu makan siangku kala itu. Bocah tersebut meringis kesakitan. Kepalanya miring-miring mengikuti gerakan tangan si gendut. Meskipun dia terus melenguh, tangan laki-laki itu tidak beranjak dari telinga bocah berusia sekitar 9 tahun tersebut. Apa yang telah diperbuat olehnya? Mengapa tidak seorang pun iba padanya? Tiba-tiba otakku dipenuhi pertanyaan yang membuatku kian bingung.
Tidak ada yang mencoba menghentikan perbuatan laki-laki berkaca mata minus tersebut, termasuk aku. Rambut gondrong bocah itu nampak lepek. Di belakang tadi, si empunya rumah makan mengguyur kepalanya dengan segayung air, ternyata. Beberapa saat kemudian, si gendut berkata dengan suara lantang, “Belum kapok juga rupanya! Jangan datang lagi ke tempat ini. Dasar bocah pembawa sial!”
Beberapa orang yang tengah menikmati makan siang, saling berbisik.
”Kabarnya ayah bocah itu mati bunuh diri.” Salah seorang yang juga sedang makan di warung itu menimpali.
“Tepatnya dipaksa bunuh diri dengan melompat dari lantai 21.”
“Kasak kusuk yang aku dengar, lelaki malang itu tidak sanggup mencari dana dalam jumlah besar yang diajukan pihak rumahsakit. Sekiranya, duit itu untuk biaya operasi persalinan,” ujar laki-laki berambut keriting yang sebelumnya duduk di pojok, lalu bergabung dengan para tamu rumah makan lainnya. Sibuk membicarakan sesuatu yang tidak aku pahami.
“Kabarnya bukan hanya hal itu saja yang menyebabkan dia nekad mengakhiri hidupnya. Tetapi tekanan dari pihak keluarga istrinya yang tidak pernah merestui pernikahannya dengan putri dari keluarga kaya raya.”
“Mungkin sebaiknya aku membawamu ke kantor polisi supaya kamu jera.” Laki-laki tambun berpostur pendek itu berteriak sembari mendorongng bocah tersebut. Bocah itu tersungkur di pinggir jalan. Bibirnya mengatup, rapat sekali. Pada pipi tirusnya terdapat dua garis sejajar—bekas air mata yang jatuh berhamburan. Dia menyembunyikan sesuatu di balik bajunya yang lusuh. Bocah tersebut bersikeras menahannya meskipun si gendut itu memaksa meminta barang yang disembunyikan olehnya.

***
Musim dingin belum beranjak dari Taipe. Matahari lebih sering bersembunyi di balik awan. Suasana muram membungkus kota. Hari ini, BMG memperkirakan suhu udara mencapai 10 derajat celcius, hingga sore. Tidak ada acara sepesial di hari liburku. Minggu, pukul 10.00 waktu setempat seusai mandi—mengenakan beberapa lapis baju supaya menjaga tubuhku agar tetap hangat, dengan langkah santai aku berjalan ke 7-11. Tas punggung berisi kamera dan gadjet, tak ketinggalan menemani acara liburku yang tak bertujuan. Seperti biasa jalan raya nampak lengang setiap hari libur. Setelah melenggang melewati beberapa apartemen dan pertokoan, akhirnya aku sampai di 7-11 sebuah mini market yang buka 24jam tersebut.
Sandwich, dan segelas kopi latte sudah berada di tanganku. Seusai membayarnya di kasir, aku mencari tempat duduk yang masih berada dalam ruangan yang sama. Kuletakkan dengan hati-hati tas punggung biru tua itu. Kemudian aku mulai menikmati sarapanku.
Berada di Negara yang penduduknya mayoritas orang Tionghoa, tak heran jika pada pertengahan Februari, tiga hari menjelang perayaan tahun baru China, sejauh mata memandang setiap sudut kota disuguhi hiasan khas hari raya—warna merah mendominasi. Tahun ini merupakan tahun ke dua keberadaanku di Negara Formosa—sebutan lain untuk Taiwan. Dan atas sepengetahuanku tahun kemarin, seperti penyambutan hari besar di Negara lainnya, masyarakat sibuk menghias rumah dengan pasu-pasu berisi bunga yang sedang mekar. Tak hanya itu saja, di dinding dan pintu akan ditempel hiasan indah seperti puisi, serta ucapan selamat tahun baru yang ditulis di atas kertas merah.
Menurut situs sejarah peradaban China yang aku baca, bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalender Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari—selalu ditambahkan setelah bulan 12. Hal ini berlaku sejak Dinasti Shang (menurut catatan ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qian Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 M. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun, sampai sekarang.
Setiap tempat menawarkan kearifan budaya lokal tersendiri, pun di Negara Republik Of China atau yang lebih dikenal dengan Negara Taiwan. Kearifan yang aku tahu, salah satunya adalah tentang kedisiplinan yang tercermin melalui budaya antri. Bahkan, ketika membeli nasi kotak atau yang di sebut peintang tak ada pemandangan berdesak-desakan atau semacamnya. Aku berharap semoga suatu saat masyarkat Indonesia juga menerapkan budaya antri seperti itu.
Omong-omong soal perayaan hari raya, aku pernah mendengar cerita dari seorang penjaga Kuil Dewi Kuan In di daerah Beitou, Taipe—yang aku kunjungi waktu itu. Biksu itu berkisah, “Menurut legenda penduduk China, dahulu hiduplah seekor naga raksasa di sebuah pegunungan. Naga tersebut dijuluki NIAN yang selalu muncul pada akhir musim dingin. Tentu saja penampakan itu bukan tanpa maksud. NIAN menyerang penduduk di sekitar pegunungan, memakan hasil panen, ternak, dan bahkan penduduk itu sendiri. Untuk menyiasati hal tersebut, sesepuh desa menyarankan untuk menaruh makanan di depan pintu rumah masing-masing. Penduduk berharap penuh, NIAN memakan persembahan tersebut sehingga tidak akan menyerang lagi. Dan doa para penduduk terkabul rupanya. Semenjak itu setiap tahun pada akhir musim dingin penduduk menerapkan hal serupa, turun temurun hingga sekarang yang oleh masyarakat dimaknai dengan perayaan hari raya,” tuturnya panjang lebar.
Seperti halnya di Indonesia, perayaan tahun baru di Taiwan tidak terlepas dari pernak-pernik yang telah menjadi ciri khas. Dan tentu saja setiap benda-benda, serta makanan yang tersaji saat perayaan Imlek mempunyai makna tersendiri. Misalnya, ketika berkunjung ke rumah saudara dengan membawa buah jeruk yang masih terdapat beberapa helai daun segar yang masih menempel di tangkainya, menandakan hubungan kekerabatan itu kian erat. Selain itu, jeruk berkulit kuning yang oleh orang Indonesia disebut jeruk mandarin—melambangkan kegembiraan. Makanan yang tidak kalah penting selain buah jeruk adalah ikan bandeng. Dalam bahasa mandarin, yu memiliki dua arti yaitu, ikan dan kebahagiaan yang melimpah. Sehingga tidak perlu heran jika dalam setiap perjamuan makan, orang China selalu menghidangkan ikan yang disajikan utuh dari ekor hingga kepala. Jika tuan rumah mengambil bagian kepala ikan, lalu diberikan pada tamu—itu merupakan penghormatan tertinggi karena tamu tersebut dianggap orang paling penting.

Aku masih berada di 7-11 saat itu. Belum sempat menelan potongan sandwich yang kukunyah, lagi-lagi aku melihat pemandangan serupa. Bocah laki-laki berambut gondrong, berbaju kusam yang kulihat tempo hari, dia kembali melintas di depanku. Kaca tebal di hadapanku ini, membuat pendengaranku tidak mampu menangkap suara dari luar dengan jelas. Seorang laki-laki nampak berjalan tergopoh. Bocah itu mencoba mensejajarkan langkahnya dengan berlari kecil. Kepalanya terlihat miring-miring karena kuping kirinya dijewer oleh laki-laki itu.
Sekonyong aku mengemasi barang-barang, lantas berjalan mengendap-endap mengikuti keduanya. Lelaki bertubuh tambun tersebut terus menceracau sepanjang jalan. Bocah yang tidak mengenakan alas kaki tersebut, seperti biasa tidak mengucapkan sepatah kata pun. Entah mau dibawa kemana dia? Aku terus mengikuti mereka. Menyusuri gang kecil yang berada diantara bangunan menjulang tinggi. Seperti kejadian kemarin, tidak ada yang mencoba menolong bocah malang tersebut. Ah! Orang kota di mana-mana sama saja. Tidak mau ambil pusing dengan urusan orang lain. Batinku.

Setelah berjalan selama 15 menit, mereka berhenti di sebuah bangunan kecil. Di depan timbunan sampah daur ulang, bocah itu bermukim. Nampak seorang wanita berpakaian kumal sedang duduk di depan rumah berdinding kardus bekas. Kedatangan bocah kecil dan laki-laki tersebut, tidak digubris olehnya. Pandangannya tidak beranjak dari semula. Sambil mengayun-ayunkan tubuhnya, wanita itu terus memilin-milin rambutnya yang kumal. Laki-laki tua itu mendorong bocah tersebut kuat-kuat hingga membuatnya tersungkur. Ada benda kecil terpelanting saat bocah itu terjerembab di tanah. Bocah itu segera bangkit dan memeluk ibunya.
Wanita itu masih saja tidak mempedulikan hal yang terjadi di dekatnya. Pandangannya kosong. Laki-laki itu berkata, “Aku tidak akan segan memenjarakanmu jika ketahuan mencuri makanan lagi, Bocah pembawa sial!” hardiknya. Bocah itu beringsut. Dia membenamkan wajah tirusnya di pangkuan ibu itu. Seperti kurang puas dengan kalimat yang berhasil membuat bocah itu ketakutan, laki-laki itu menendang bokong bocah kecil tersebut hingga dia terguling. Kemudaian dengan langkah besar-besar laki-laki bertubuh tambun yang seingatku ia adalah pemilik rumah makan tempo hari, beranjak meninggalkan tempat kumuh.

Setelah laki-laki itu menghilang dari hadapan mereka, bocah itu nampak mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya—benda terbungkus kantong plastik. Bocah itu sibuk membuka bungkusan. Setelah beberapa saat, cuilan kecil disuapkannya ke mulut sang ibu. Entah dorongan apa, kakiku melangkah mendekat ke arah mereka. Bocah itu tidak mempedulikanku. Lebih tepatnya, tidak menyadari keberadaanku di sana. Rupanya, bungkusan itu berisi sepotong kepala ikan bandeng. Apakah dia mencuri dari tempat lelaki berbadan tambun itu? Bukankah resikonya sangat besar? Bagaimana kalau ucapan laki-laki itu tempo hari, tidak main-main? Pikirku.
Wanita itu masih dengan tubuh yang terayun-ayun, dia mengunyah cuilan kepala ikan hasil jerih payah putranya. Tepatnya hasil dari mencuri. Bocah itu dengan menggunakan bahasa isyarat, mencoba memberi tahu sesuatu pada ibunya. Seulas senyum ceria terpancar dari bibir mungilnya. Rupanya bocah itu tunarungu. Tanpa sadar air mataku meleleh.
Deg! Lagi-lagi aku terperanjat melihat pemandangan berikutnya. Wanita itu mengangkat kedua tangannya. Ditempelkannya telapak tangan tersebut di pipi bocah kecil itu. Dia menatap nanar putranya. Detik berikutnya kedua tangan perempuan itu mengusapa-usap rambut godrong putranya, ke belakang. Aku mengucek-ucek mata, berharap salah melihat. Bocah itu tidak memiliki daun telinga rupanya.
Lagi-lagi tanpa sadar aku melangkah mengampiri ke duanya. Kupungut benda yang terlempar tadi. Alisku berkerut. Di tanganku terdapat sebuah bandul. Melihat bentuk bandul itu, sepertinya terdapat foto di dalamnya. Aku penasaran. Tanpa meminta izin dari pemiliknya, segera kubuka bandul itu. Lalu aku membalikkan badan. Menatap lekat-lekat wanita berambut kumal itu, bergantian memandangi foto yang ada dalam bandul. Gadis dalam foto itu mirip sekali dengan ibu bocah malang tersebut. Dan lelaki paruh baya yang merangkulnya, sepertinya aku pernah melihat tampang orang ini. Pikiranku terus meraba-raba. Aku menggigit bibirku kuat-kuat.
“Bukankah ini lelaki yang sama yang baru saja aku lihat meninggalkan tempat ini,” ujarku pada diri sendiri.

Selesai

Taipe, 5 Februari 2015

ANAK SAPI

gambar-i-love-you-momHai, Guys! Selamat menunaikan malam mingguan bagi kalian yang merayakan. Bagi kaum LDR, atau yang sedang jomblo mending merapat ke mari membaca coretanku malam ini. Sebelumnya, mohon maaf ya, ternyata aku masih belum konsisten dengan sesuatu yang sudah aku planing sebelumnya. Tentang jadwal nulis yang masih berantakan. Yah, meskipun aku sadar no escuse untuk melakukan apa yang sudah direncankan, tapi rutinitas kerja serta segala tetek bengek di dalamnya, tak bisa aku pungkiri hal itu menyita banyak waktu, juga tenangaku. Terlepas dari itu semua, tentu saja aku masih mencintai dunia menulis. Sesibuk apa pun, meski tidak dapat dipastikan jadwalnya, aku masih tetap menulis dan menulis. 

***

ANAK SAPI
Oleh: Keyzia Chan

Ibukmu d rmhsakit. Kami brda d ruang gwt darurat. Hpnya paman yg bw
Satu pesan masuk ke HP-ku itu berasal dari nomer ibu. Aku kelabakan sesaat setelah membaca SMS tersebut. Otakku membeku. Tiba-tiba semua terasa hening. Bukan hanya itu saja, rasanya ada kekuatan super yang mencekik leherku sehingga aku kesulitan bernapas. Segala rasa bercampur aduk dan tertahan di hati.
Tidak berlebihan jika aku menganggap ibu pemilik separuh jiwaku. Sayangnya, akhir-akhir ini hubunganku dengan beliau kurang harmonis. Dan itu salahku.
“Terlambat sudah!” desisku sambil menggigit bibir kuat-kuat.
BRUK! Lututku membentur lantai. Kotak berisi mukena yang terbungkus kertas kado—hadiah untuk ibu, berhambur keluar dari kantong plastik. Nyaliku terlalu kecil untuk menduga-duga apa yang sekiranya terjadi pada ibu? Kenapa HP itu ada pada paman?
***
“Sarapan dulu, Ibu sudah mengambilkan sepiring nasi untukmu.”
“Nggak usah!”
“Tapi, nasinya sudah nggak panas seperti kemarin pagi.”
“Nggak keburu, Bu. Lihat, tuh! Udah jam berapa?!” teriakku dari kamar.
Ibu melenguh kesal, tapi perasaan itu ia simpan rapi dalam hati.
“Ya, sudah kalau begitu. Bekal makan siangmu, Ibu masukkan ke dalam jok.”
Aku mendengarnya tetapi tidak membalas kalimat terakhir dari ibu. Di kamar, aku justru asyik membalas pesan dari sahabatku.
Sampai kapan pun, anak tidak pernah menjadi dewasa di hadapan ibunya. Meski usianya berbilang kepala dua. Anak tetaplah anak yang harus diurusi segala keperluannya. Kendati sebenarnya si anak tidak ingin merepotkan ibu. Selama ini, ibu selalu turut andil menentukan apa-apa yang akan kulakukan. Itulah sebabnya aku terlambat dewasa.
Aku masih ingat saat itu ketika masih duduk di bangku SD, teman-teman sering memanggilku ‘anak sapi’. Saat terik mentari membungkus kota. Aku berjalan seorang diri. Sesekali jemari kecilku mengelap pipi yang basah. Sepanjang perjalanan pulang pikiranku masih terpusat pada ucapan Yuna, ia teman sebangku di SD Darmawanita. Kerikil dan bebatuan kecil jalanan menjadi pelampiasan kekesalanku. Kutendang benda-benda tersebut kencang. Sambil manyun aku bertanya dalam hati, apa iya aku bukan anak kandung Ibu?

Sesampainya di rumah aku melempar sembarang tas sekolah itu, kemudian kubanting pintu keras-keras. Ibu yang sedang sibuk di dapur bergegas mencari tahu apa yang terjadi? Dipungutnya tas sekolah yang berada di lantai, setelah itu ia duduk di tepi ranjang. Mengetahui kedatangan ibu, aku bangun dan duduk di hadapannya. Dengan sorot mata tajam yang masih berkaca-kaca, aku yang berkepang dua—meminta penjelasan pada sesosok berparas lembut tersebut.

”Katakan sejujurnya, sebenarnya Sasi anak siapa?” ucapku sambil terisak-isak.

”Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” ibu berbalik bertanya. Ekspresinya bingung.

”Katakan saja, siapa ibu kandungku? Kata teman-teman, aku ini anak sapi.” Bibirku semakin maju. Sejurus kemudian aku kembali tengkurap di atas ranjang. Kubenamkan wajahku ke dalam bantal. Sambil mengusap kepalaku, pemilik kulit kuning itu berkata, ”Tidak ada tanduk di kepalamu.” Seulas senyum tersungging di bibirnya. ”Berarti Sasi bukan anak sapi. Bukankah sapi itu bertanduk?” tandas Ibu.

Beberapa detik berikutnya aku kembali bangkit. Tak mau kalah dengan ibu, aku pun menjelaskan asal mula munculnya pertanyaan bodoh tersebut. Kusampaikan pada ibu bahwa teman-teman menyebutku ‘anak sapi’ lantaran dari kecil tidak minum asi melainkan susu kaleng. Dan karena setiap hari aku masih disuapi, temanku bilang: Itu memalukan.

”Apanya yang memalukan?” tanya ibu akhirnya.

”Disuapi itu memalukan, apa lagi Sasi sudah SD. Mulai sekarang, Ibu jangan lagi menyuapiku,”

”Ibu akan terus melakukannya.”

”Kenapa?”

”Karena Ibu sayang dengan Sasi.”

”Sampai kapan Ibu melakukannya?”

”Sampai kapan pun, selagi tangan Ibu masih bisa menyuapimu.”
***
Perlahan, aku mulai membiasakan diri untuk tidak tergantung dengan ibu. Menjadi tua adalah kepastian. Tetapi menjadi dewasa adalah suatu pilihan. Kutipan kalimat tersebut terus mendorongku untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh gadis berusia 20 tahun. Aku tidak lagi melibatkan ibu dalam masalah-masalah yang kuhadapi. Aku jarang menghabiskan waktu bergelayut manja pada ibu. Kami, khususnya aku seperti orang asing di rumah sendiri. Menyapa sekadarnya. Bicara seperlunya. Tentu saja ibu mempertanyakan atas perubahan sikapku. Aku selalu beralasan sedang lelah karena padatnya pekerjaan. Itu saja.
Sore itu hujan deras mengguyur kota. Sesekali kilat membelah langit diikuti gemuruh guntur, menggelegar. Aku dalam perjalanan pulang. Beruntung rumahku tidak jauh dari tempat kerja sehingga aku nekat menerobos jalanan basah, waktu itu.
“Ya, ampun … kenapa nekat pulang?! Harusnya berteduh dulu sampai hujan reda.”
Kedatanganku disambut berondongan pertanyaan ibu. Aku tidak menjawabnya. Setelah memarkir motor, kulepas helm kemudian menaruhnya sembarang.
“Ibu bilang, jangan lupa bawa jas hujan. Sudah tau lagi musimnya, kok ya nggak mau nurut sama ibu ….”
Aku masih malas bicara. Kurasa ibu meracau tidak pada tempatnya. Apa tidak bisa ditunda barang sejenak? Paling tidak, menunggu aku selesai mandi. Gerutuku. Tidak berhenti sampai di situ, ibu masih saja bicara panjang lebar.
“Lihat! Gara-gara ini, jas hujannya nggak muat ditaruh dalam jok,” ucapku mengkal. Kusodorkan kotak tempat makan itu. Dan aku baru sadar hari ini isinya belum aku sentuh sama sekali.
“Loh, kok masih berat? Kamu nggak memakannya? Kenapa? Lagi kurang enak badan, atau banyak pekerjaan sehingga nggak sempat makan, Nak?”
“Cukup, Bu! Bisa nggak, ngomelnya nanti aja. Aku nggak lagi sakit. Biasanya, makanan itu kuberikan sama temanku,” ujarku lirih. Tetapi ternyata, ibu mendengarnya. Ibu tertunduk memegangi tempat makan itu. Entahlah, mungkin beliu menangis. Aku terlanjur kesal sampai-sampai aku mengabaikannya.
***
Hari-hari berikutnya, ibu tidak lagi ribut soal bekal makan. Ibu masih menyiapkan sarapan untukku. Bedanya, ibu tidak lagi berteriak menyuruhku segera sarapanku. Teman, pernahkah kalian merasakan hal ini? Sesuatu yang sempat kita benci, suatu saat akan menghandirkan aroma rindu yang membuncah. Aku sering mengalaminya. Seperti sekarang ini. Aku merindukan kotak makanku—isinya dan ….
Bukan hanya kehilangan bekal makan, tetapi lebih dari itu. Sepertinya, ibu juga sering terlihat murung. Tidak lagi banyak bicara tentang ini itu. Segala cara telah aku lakukan untuk mengembalikan keadaan seperti dulu. Namun belum menunjukkan adanya perubahan.
Aku mendengar deru mesin mobil berhenti di halaman rumah. Tangisku kembali meledak. Kuambil kado itu lalu memasukkanya ke dalam plastik. Aku berusaha bangkit, tapi kakiku seperti terpatri dengan lantai. Ini kiamat kecil. Ya, aku merutuki diriku yang telah menyia-nyiakan kasih sayang ibu.
“Sasiii …! Apa yang terjadi, Nak …?”
Serta merta mataku terbelalak. Kupertajam pendengaranku. Apa aku berhalusinasi? Ibu tergopoh menghampiriku, diikuti paman, bibi, serta nenek. Ternyata, mereka baru saja menjenguk saudara yang tengah di rawat di rumah sakit. Ibuku baik-baik saja.

Selesai.

Taipe, 31 Januari 2015

MIE KUAH AJAIB

saat-prajak-bertemu-dengan-puteri-penjual-mie

(Ide cerpen ini diambil dari sebuah video di youtube)

MIE KUAH AJAIB
Oleh
Keyzia Chan

Menangis sampai bola mataku keluar sekalipun tidak akan mengubah keadaan. Yang ada dalam pikiranku saat ini, dari mana aku bisa mendapatkan uang puluhan juta dalam kurun waktu sehari semalam? Aku sudah berusaha menghubungi segenap kerabat yang ada. Hasilnya nihil. Sambil mengusap air mata, kupandangi selembar kertas yang diberikan suster sore tadi.

*
“Pencuri! Kembalikan obat-obatan itu!” Teriakan yang semula terdengar samar-samar tersebut kian jelas, kini. Ayah menghentikan aktivitasnya. Sekonyong berjalan ke luar kedai mie, siang itu. Aku mengekor ayah yang berpawakan kurus tersebut. Dari jarak yang tidak jauh tempatku berdiri, nampak bocah laki-laki dengan kepala pelontos berjalan mundur—keluar dari apotik. Di tangan bocah yang usianya terpaut beberapa tahun di atasku tersebut, terdapat sebotol obat serta beberapa lembar pil yang akan ia bawa begitu saja tanpa menukarnya dengan sejumlah uang. Wanita pemilik apotik terus menceracau. Tak ketinggalan tangannya menjorok-jorokkan kepala bocah sesaat setelah mengambil paksa barang dagangannya yang hampir berpindah tangan.
“Tunggu dulu!” teriak Ayah mencoba melerai. Raut muka ibu berambut keriting tersebut nampak berang. Sementara bocah itu terus menekuk wajahnya. Dari informasi yang disampaikan bocah itu, ayah mengetahui bahwa ibu si bocah sedang sakit. Tanpa bicara banyak, ayah merogoh kantong celananya. Mengeluarkan beberapa lembar uang. Tentu saja beliau berniat membayar sejumlah obat itu.
“Sayang, bawakan sebungkus mie kuah kemari. Cepat!” perintah ayah.
Mulutku sedikit maju. Jelas aku kesal. Sudah tahu bocah itu berniat mencuri, ayah memperlakukaannya dengan baik. Entahlah! Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran ayah waktu itu. Bagiku pencuri tetaplah pencuri apapun alasannya kejahatan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Tetapi, apa yang bisa aku lakukan? Tentu saja aku tak berani menentang beliau.
Ayah memasukkan obat-obatan tersebut ke dalam kantong plastic yang terdapat sebungkus mie kuah di dalamnya. Detik berikutnya, bocah itu mengangkat wajahnya. Menatap ayahku lekat-lekat. Setelah menyambar barang yang diberikan padanya—ia lari tunggang langgang tanpa mengucapkan terima kasih. Aku semakin kesal melihatnya. Ayah merangkulku. Kami berdua berjalan beriringan kembali melanjutkan aktivitas siang itu.
*
Matahari bersinar terik. Lalu lalang kendaraan, serta pejalan kaki yang melintas di depan kedai mie menimbulkan suara gaduh. Sesekali ayah terlihat mengusap peluh yang sedari tadi menetes—menggunakan handuk kecil yang menggantung di lehernya. Kedai mie yang dirilis ayah sejak beberapa puluh tahun lalu memang berada di tengah pasar. Tak ayal tempat kami senantiasa ramai pembeli.
“Ayah!” Aku memanggil beliau setengah berteriak sedetik setelah mataku memelototi siapa yang datang ke kedai kami siang itu. Ya, siang kesekian kalinya setelah kejadian beberapa waktu silam. Tahun demi tahun terus berlalu. Aku beranjak dewasa. Rambut ayahku kini sudah dipenuhi uban. Tubuh kurusnya semakin ringkih saja. Segala hal telah berubah. Tetapi kebiasaan baik ayah tidak pernah berganti.
“Ini makan siangmu. Pergilah!” ujar ayah pada pengemis yang bertandang ke kedai kami. Di sela-sela kesibukannya melayani pembeli, ayah yang berkulit coklat tua tersebut masih saja memedulikan pengunjung yang seperti itu. Tentu saja makanan tersebut, ayah berikan secara cuma-cuma. Aku sempat berpikir, mungkin hal inilah yang membuat usaha milik keluarga tidak pernah berkembang. Dalam benakku terbersit jawaban penyebab ibu meninggalkan kami sejak aku masih kecil. Bagi ayah, yang terpenting kami tidak kekurangan makan. Sedangkan berbagi dengan orang yang membutuhkan merupakan bagian hidup yang tidak boleh ditinggalkan. Mungkin saja waktu itu, ibu menganggap ayah berlebihan. Mengingat kondisi keuangan keluarga hanya pas-pasan.
Aku melanjutkan aktivitas. Kuhela napas kasar sambil mencuci piring serta gelas kotor yang ada di hadapanku. Bunyi gedebum diikuti suara benda-benda yang berjatuhan membuat perhatianku beralih, cepat. Detik itu juga kupalingkan wajah ke arah sumber suara. Mulutku terbuka lebar. Mataku terbelalak. Kulempar sembarang benda yang aku pegang tadi. Gegas aku mengampiri ayah yang tengah terkapar di lantai.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang menangani kasus ayah menyampaikan bahwa kondisi beliau kritis. Harus segera dilakukan operasi. Aku menuruti apa yang dokter sampaikan kendati tidak memiliki sejumlah uang untuk biaya operasi yang tentu saja jumlahnya cukup besar. Yang ada dalam hati, aku harus melakukan sesuatu yang terbaik untuk ayah. Sesaat setelah selesai membahas hal tersebut, dokter kembali bertandang ke ruangan di mana ayah di rawat. Dokter tersebut seperti berusaha mengingat sesuatu ketika sorot matanya menelusup ke wajah yang tengah tak sadarkan diri tersebut.
Aku satu-satunya keluarga yang ayah miliki. Sehingga dapt dipastikan tidak ada seseorang pun yang bisa kuajak berbicara mengenai perihal yang terjadi pada beliau. Ditengah kemelut yang sedang menyelimutiku, saat aku dipaksa memikirkan masalah beserta solusinya dalam jeda waktu 24 jam, waktu menatap tubuh ayah yang terbaring tak sadarkan diri dengan belalai infuse di sebelahnya, serta alat bantu pernapasan yang bertengger di sebagian wajah beliau—tidak ada pilihan lain aku harus menjual rumah kami secepatnya. Rumah sekaligus kedai mie milik keluarga.
Bangsal rumah sakit nampak sepi ketika kakiku melangkah meninggalkan ruangan di mana ayah di rawat. Terlihat beberapa suster yang bertugas jaga malam, tengah sibuk keluar-masuk kamar pasien. Malam kian tua. Aku memutuskan untuk pulang mempersiapkan sertifikat rumah. Tak ada kendaraan umum yang beroperasi di malam hari selain tukang ojek dan becak. Lagi pula tidak tersisa sepeser uang pun, maka aku putuskan untuk berjalan kaki. Jarak antara rumah sakit dengan tempat tinggalku, lumayan jauh. Dan di antaranya terdapat bulak yang konon rawan terjadi tindak kriminal di sana. Aku sudah tidak peduli apapun kecuali melakukan sesuatu demi kelangsungan hidup ayah.
*
Hampir lima jam segenap tim dokter tengah berjuang menyelamatkan nyawa ayah, malam itu. Aku terus mondar-mandir menungguinya di luar. Mulutku komat-kamit merapal doa. Doa supaya nyawa ayah tertolong. Doa supaya rumah kami segera terjual. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Sementara air mataku seperti tak pernah kehabisan stok. Terus dan terus mengucur deras. Degub jantungku kian tak beraturan. Kuremas jemariku yang juga berkeingat. Sesekali menggigitnya untuk mengalihkan rasa gelisah yang hampir tidak dapat kukuasai.
Tak kurang dari tujuh jam, peralatan medis menjelajah bagian tubuh ayah yang dibedah. Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, operasi itu berhasil. Ayah masih tidak sadarkan diri. Namun, masa kritisnya sudah lewat. Kubenamkan wajahku di samping ayah berbaring. Jiwa serta ragaku lelah. Doa terus kurapal karena bagaimanapun rumah belum terjual.
Tak tanggung-tanggung pagi itu sinar mentari begitu semangat memamerkan pesona kehangatannya. Aku yang terlelap di samping ayah, terjaga oleh getaran HP yang kutaruh di di sebelah. Satu pesan masuk tertulis di layarnya. Ck. Kuhela napas berat. Sms itu mengabarkan bahwa orang yang kemarin menawar rumah kami, mengurungkan niatnya. Tubuhku lemas seketika.
Aku menaruh HP itu. Mengusap wajah dengan ke dua tangan. Tunggu dulu. Kata hatiku sesaat setelah mendapati keberadaan selembar kertas. Ya, di sebelah ayah berbaring, terdapat secarik kertas. Aku gegas menyambarnya. Di atasnya tertulis seluruh biaya operasi serta perawatan ayah, lunas. Adalah dokter yang bertanggung jawab menangani kasus ayah tersebut, orang yang berbaik hati menanggung segala urusan kami. Di atas surat itu juga tertulis, segenap ucapan terima kasih atas kebaikan yang telah ayah lakukan 30 tahun silam. Tentang sejumlah obat-obtan serta sebungkus mie kuah yang pernah diberikan padanya.
Aku baru menyadari bahwa hidup adalah serangkaian sebab akibat yang terus berkesinambungan. Mie kuah yang ayah berikan secara cuma-cuma pada siapa pun yang tidak mampu membeli, memang ajaib. Di sana terselip doa yang baik bagi pemberinya yang tidak pernah mengharap apa-apa. Tak terkecuali ucapan terima kasih.
Selesai

Taipe, 18 Januari 2015

FESTIVAL KEBUDAYAAN DI JEPANG

bendera bergerakHai semua. Selamat menjalankan kegiatan makan siang bagi kawasan perut yang sedang dilanda lapar. ^_^ Nggak seperti biasanya, ya. Hari ini aku nongol di luar jadwal yang sudah disepakati oleh semesta. Haha. Mumpung lagi break makan siang, Guys, kebetulan tadi pas browsing nemu artikel keren. Sayang jika hanya dilewatkan begitu aja tanpa membaginya dengan kalian. Sebagaian dari kamu, mungkin udah pada tahu tentang beraneka macam festival di Negara Sakura. Nah, untuk yang belum mengenal apa saja sih, jenis festival kebudayaan Jepang? Yuk, simak artikel berikut.

1. OBON MATSURI

Menurut kepercayaan Budha Jepang, ini adalah waktunya buat mereka yang mati kembali mengunjungi bumi. Itu sebabnya, Obon atau Bon merupakan perayaan keagamaan saat semua keluarga berkumpul untuk mengenang mereka yang sudah mati.

Malam pertama festival ditandai dengan menyalakan api unggun di luar rumah untuk menymbut arwah para leluhur. Di akhir festival, disiapkan makanan perpisahan dan api unggun kembali dinyalakan untuk mengawal para arwah kembali ke alamnya.

2. OMISOKA [Festival Malam Tahun Baru]

Hari terakhir di tahun yang lama dan malam di tahun yang baru, Omisoka menjadi perayaan paling penting di Jepang. Biasanya orang-orang berkumpul di rumah sambil menyantap soba atau udon. Menyeberang di tahun yang lama ke tahun yang baru adalah makna dari santapan mereka.

Dekorasi khas tahun baru adalah, Kagami Mochi. Setiap rumah akan memajang dekorasi ini sebagai pembawa keberuntungan dan kemakmuran. Terbuat dari dua buah rice cakes berbeda ukuran dan daidai (sejenis jeruk) yang ditaruh di atasnya.

3. SANNO MATSURI

Salah satu perayaan Shinto terbesar di Jepang yang jatuh pada bulan Juni. Sejarah perayaan ini adalah festival pertama yang memperbolehkan Shogun memasuki kastil Edo di era kekaisaran Edo (1603-1867).

Ratusan orang berpakaian kuno berparade sampai ke jantung kota Tokyo sambil membawa Mikhosi (sejenis kuil dengan hiasan burung phoenix di atasnya). Banyaknya orang yang terlibat membuat proses ini berlangsung sampai 600 meter panjangnya.

4. KODOMO NO HI (Festival Hari Anak)

Hari ke lima di bulan ke lima adalah bulan bahagia buat seluruh anak-anak di Jepang. Ini adalah hari perayaan buat mereka. Sekolah diliburkan dan mereka mendapat hadiah uang.

Setiap keluarga akan menerbangkan layang-layang berbentuk ikan yang dikenal dengan nama Koinobori. Ikan merupakan lambang kegigihan dan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup, berenang melawan arus bahkan menerjang gelombang.

5. HANAMI (Festival Bunga Sakura)

Hanami adalah tradisi Jepang menyaksikan peristiwa mekarnya bunga sakura. Peristiwa ini menjaadi kegiatan keluarga yang menyenangkn. Menyaksikan mekarnya bunga sambil berpiknik ria atau barbekyu.

Kata Hanami artinya ‘meihat bunga’ tetapi secara umum maksudnya adalah melihat bunga sakura. Biasanya jatuh pada musim semi, dari Maret sampai awal Mei.

6. SHINCHI-GO-SAN (Tujuh-Lima-Tiga)

Tujuh-Lima-Tiga, adalah umur-umur kritis dalam kehidupan seorg anak di Jepang. Anak perempuan pertama kali memakai OBI di usia 7 tahun. Sementara anak laki-laki pertama kali memakai celana HAKANA di depan publik di usia 5 tahun. Pada usia 3 tahun anak-anak lelaki dan perempun diperbolehkan menumbuhkan rambut. mereka.

CHITOSE AME adalah sejenis permen yang dibagikan pada anak-anak diperayaan Shinchi-Go-San. Permen berwarna merah dan putih ini symbol dari pertumbuhan yang sehat dan umur panjang. Biasanya dibagikan bersama tas bergambar kura-kura dan burung bangau, lambang panjang umur.

7. HINAMATSURI (Hari Anak Perempuan dan Hari Boneka)

Anak-anak perempuan di Jepang mempunyai hari spesial yang dirayakan setiap tanggal 3 Maret. Setiap keluarga akan berdoa untuk anak-anak perempuan mereka agar mempunyai kehidupan yang sukses dan bahagia.

Satu set boneka Hina-Ningyo akan dipajang untuk memperingati hari ini. Terdiri dari lima atau tujuh tingkat yang merupakan perwakilan dari kaisar, permaisuri, tiga dayang-dayang, lima musisi, dua menteri, dan tiga pelayan.

8. SETSUBUN (Perayaan Pembagian Musim)

Perayaan ini diadakan setiap tanggal 3 atau Februari, satu hari sebelum musim semi, berdasarkan penanggalan Jepang. Sejak dulu masyarakat Jepang melakukan ritual yang bertujuan untuk mengusir roh jahat di permulaan musim semi.

MAMEMAKI adalah nama upacara ritual untuk mengusir roh jahat tersebut. Orang-orang melempar kacang ke arah pintu atau ke anggota keluarga yang memakai topeng Oni sebagai perlambang pengusiran roh jahat keluar dari rumah dan mengundang keberuntungan masuk.

9. GANJITSU (Festival Tahun Baru)

Dirayakan setiap tanggal 1 januari. Pada tanggal ini orang-orang jepang mengadakan kunjungan simbolik ke Kuil Shinto atau Budha untuk menjadi yang pertama melihat matahari terbit.

KADOMATSU adalah bentuk dekorsi yang paling sering dijumpai pada tahun baru. Terbuat dari batng pinus dan bambu. Biasanya ditaruh di depan rumah atau toko. Pinus simbol umur panjang sementara bambu adalah keteguhan dan ketulusan. Ditambah dengan ranting plum sebagai simbol hidup baru dan awal baru.

10. JIDAI MATSURI (Festival Semua Umur)

Festival yang diadakan untuk semua umur yang jatuh pada tanggal 22 Oktober di Kyoto. Jalannya perayaan sangat terorganisir dan terjadwal dengan sangat tepat waktu. Parade kostum dari Era Meiji sampai Era Heian, berjalan dalam urutan waktu kebalikannya.

Sekitar 2000 orang mengenakan kostum yang mewakili era sejarah kekaisaran Jepang. Kostum yang digunakan tak hanya sesuai dengan era yang diwakili tetapi juga sangat memperhatikan detail sampai ke hal kecil.

11. KISHIWADAN DANJIRI MATSURI

Khisiwadan adalah menarik kereta berisi Danjiri (kuil yang terbuat dari kayu). Ratusan pria akan menarik danjiri ini sepanjang jalan. Festival ini dirayakan dua kali yaitu pada bulan September dan Oktober.

Khisiwada adalah perayaan danjiri yang paling terkenal dan paling meriah. Melibatkan banyak penari dan musisi yang tergabung dalam orkestra.

12. TANABATA (Festival Bintang)

Bertemunya kembali Orihime dan Hikoboshi yang diwakili oleh bintang Vega dan ALtair. Menurut legenda, sepasang kekasih ini dipisahkan oleh sebuah komet sehingga mereka hanya bisa bertemu sekali dalam setahun.

Pada hari perayaan orang-orang menuliskan permohonan mereka di Tanzaku, selembar kertas yang digantung di sebuah bambu. Bambu tersebut dihanyutkan ke sungai atau kadang dibakar setelah festival berakhir, tengah malam atau hari berikutnya.

Nah, demikianlah ke-12 festival yang dirayakan di Jepang. Semoga bisa menambah wawasan tentang budaya negara asing. Tetap semangat, Guys. Belajar sambil berbagi.

Taipe, 15 Januari 2015

MANEJEMEN EMOSI

Hai semua. Nggak terasa udah rabu aja. Malam ini saatnya mengupas tentang serba-serbi RELATIONSHIP. Mengubah sudut pandang. Point of view. Ini bukan tentang karya tulis. Tetapi lebih dari pemahaman terhadap sesuatu dalam kehidupan sehari-hari, Lass. Jadi begini, belajarlah bersabar. Jika itu susah, paling tidak biasakan untuk menahan atau mengendalikan emosi. Ingat, emosi tidak bisa membunuh seseorang, tetapi seseorang bisa menjadi pembunuh karena emosi. [Aveus Har]

EQ atau biasa disebut kecerdasan emosional lebih berpengaruh terhadap apa yang akan kita lakukan dari pada IQ kecerdasan otak. Pintar saja tidak cukup jika emosi sering kali tak terkendali. Kau tahu?

Nah, kembali lagi kusampaikan padamu, Lass. Kendalikan emosimu. Semua ada masanya. Dan segala hal memiliki masa kadaluarsa. Tentang apa-apa yang belum sesuai dengan keinginanmu, itu berarti dari awal kamu salah berinvestasi. Maksudku begini, Lass. Jika dari awal kamu menanam biji jagung, bukankah mustahil kalau yang tumbuh cabai rawit. Kecuali jika memang waktu itu kamu menyelipkan biji cabai di dalam lubang yang sama. Haha.

Lagi pula, kau juga tidak akan bisa mengubah seseorang seperti apa maumu dalam waktu singkat, Lass. Ingat! Kebiasaan itu sudah dilakukannya sepanjang perjalanan hidupnya. Di sini mainkan EQ-mu. Sabar. Alternatif lainnya, jika kau tak ingin bersusah payah, ikuti saja caranya. Pilihan terakhir, tinggalkan jika memang dua cara itu menyulitkanmu. Semua tergantung kau sendiri.

Intinya, semua hal tergantung pada dirimu sendiri, Lass. Bagaimana mengubah kesombongan menjadi kelembutan, bagaimana mengubah kemurungan menjadi keceriaan. Hei! Seluruh penjuru kota ini merupakan tempat yang asyik untuk berpetualang. Jadi, jangan bodoh memfokuskan diri hanya pada sesuatu. Bergeraklah. Nikmati hidupmu. Lakukan apa saja yang mendatangkan tawa renyah.

Lentur. Yang lentur, Lass. Dengan begitu tentu saja tidak akan mudah patah. Maksudku, ikuti saja perjalanan nasib ini. Namun ingat, kamu harus tetap menjadi pengendali dirimu. Buka orang lain. Bahagia itu diciptakan. Bukan menunggu-nunggu seseorang menyapamu, ”Selamat pagi sayang.“ Yang seperti itu terkadang hanya menipu. Sebenar-benarnya rasa sayang ialah yang disampaikan lewat perbuatan. (Biarin sotoy dikit. Kalau sotoy ayam, di sini susah nyarinya. :p)

Berikut ini beberapa hal yang harus ada dalam sebuah hubungan:

1. EMOSIONAL YANG STABIL

Jika masih emosional berarti kamu belum stabil atau bisa disebut childis. Hal ini dapat dilihat dari sikap kamu yang mudah marah, sedih, serta seringnya membesar-besarkan masalah. Sedangkan ketika udah meningkah, ntar kamu dan pasangan akan lebih banyak menghadapi problematika kehidupan. Dan ketika menghadapi saat-saat seperti itu emosional harus tetap terjaga. Jika selama ini kamu nyelesein masalah dengan cara marah-marah nggak jelas, ngambek, dan ujung-ujungnya minta putus, sebaiknya perbaiki emosional kamu. Dewasa bukan berarti bertambahnya umur doang, ‘kan? Lebih dari itu tentu saja kamu dituntut piawai dalam membawa diri. Bersikap yang benar di saat yang tepat.

2. KOMUNIKASI

Komunikasi selalu memegang peranan penting dalam suatu hubungan. Bukan hanya dalam hubungan percintaan doang, melainkan juga mecakup arti yang lebih luas. Berbicara dengan nada tinggi atau langsung menuduh, nggak akan menyelesaiakan masalah. Kau tahu? Belajarlah untuk berkomunikasi secara bijaksana terutama ketika terjadi suatu yang membuatmu terasa tertekan. Selain itu, siapkan diri untuk menjadi pendengar yang baik. Bisa berkomunikasi dan jadi pendengar yang baik merupakan dua esensial yang dibutuhkan dalam membangun sebuah hubungan yang harmonis.

3. BISA MENGATASI KONFLIK

Dua manusia yang notabene memiliki sifat, sikap, serta pemikiran berbeda itu wajar. Tetapi terkadang jika ke dua belah pihak nggak bisa menerima perbedaan serta plus minus yang berasal dari pasangnnya, nah hal inilah yang bisa menimbulan konflik. Perbedaan nggak berarti harus disamakan. Kurasa mengambil jalan tengah atas hal yang dipermasalahkan itu jauh lebih baik. Dengan begitu ke duanya tidak merasa dirugikan. Hubungan yang sukses bisa terjadi jika mampu menyelesaiakan berbagai konflik yang ada. Mengalah bukan berarti menjatuhkan harga diri kalian. Tetapi lebih dari itu pembebasan penyakit hati yang dalam hal ini disebut ego akan luluh dengan sendirinya untuk menjaga sebuah komitmen.

4. MENEBARKAN AURA POSITIF

Sebuah senyuman, belaian lembut, tertawa ketika si dia memeberikan lelucon, bisa menerima kritik dengan baik, hingga tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya membuat hubungan yang ada menjadi positif. Bergeraklah agar menjadi contoh. Tidak perlu menunggu contoh untuk bergerak. Lakukan yang terbaik semampunya selama si dia masih kamu miliki supaya nggak akan timbul penyesalan di kemudian hari.

Demikianlah beberapa tips yang aku ambil dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Yuk, berbagai sambil belajar. ^_^

Taipe, 14 Januari 2015

SEPOHON KAYU

Oleh,

Keyzia Chan

Yang harus kau lakukan adalah, bersiap kehilangan. Hal itu tidak bisa dipungkiri karena dalam suatu pengharapan pasti akan ada kekecewaan. Jangan menyalahkan aku jika suatu hari ketika aku tak lagi mencarimu dengan linang air mata di pipi, atau ketika kepalaku sedang dikelilingi oleh ribuan lebah yang mendengung membuatku bingung, aku takkan lagi berlari ke arahmu. Tidak.

Aku bukan saja ingin berjalan di bawah rinai hujan deras dengan kepala tertunduk serta air mata berderaian yang kubiarkan jatuh bersama rerintik itu. Aku ingin merangkak saja. Menunduk dalam-dalam menyembunyikan getir ini dibalik rambut panjangku yang menjuntai. Bersamaan dengan itu, ujung-ujung air kiriman dari langit kubiarkan membasuh luka-luka yang telah lama aku bawa dari dataran ber-mil jauhnya sampai ke negri ini.

Tempat baru belum tentu menyuguhkan cerita yang berbeda. Sungguh.

Aku merindukan rindu. Saat kuketuk setiap pintu yang kukira bisa menampungku untuk tinggal di sana, lagi-lagi aku harus menelan rasa pahit atas kenyataan itu. Deretan rumah yang berjejer di tepi sebuah kanal, pada bangunan kokoh yang terlihat memesona itu, aku tak mendapati apa yang aku cari selama ini. Salah satu pintu rumah terbuka lebar. Aku dipersilahkan masuk, tetapi tidak untuk menetap kemudian menua di sana. Pemilik rumah itu mungkin saja ia iba terhadapku. Atau ia hanya berniat bersenang-senang, barangkali.

Oleh karena itu aku berpikir bahwa, jika hidup sering memaksaku untuk berdamai dengan apa pun, kali ini aku menginginkan sebaliknya. Aku mencoba menentang alam. Kukira aku bisa meskipun sayatan demi sayatan telah kudapatkan, sedikit pun tak ada keinginan untuk mundur, kala itu. Aku berdiri lalu memutuskan untuk melangkah–antara berani atau tidak. Antara yakin atau tidak. Akhirnya aku pun menyerah setelah memutuskan untuk maju.

Bukan kalah. Tidak juga berputus asa. Tetapi lebih dari itu semua aku berniat membebaskan hati dari kutukan penderitaan atas keinginanku sendiri yang tak segera kudapatkan. Hatiku layak mendapatkan tempat yang terbaik.

Semenjak itu aku kembali pada rute yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Sewaktu melenggang di atas jalan setapak menuju tempat yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu berada di mana itu, ketika satu persatu luka sejenak dapat kulupakan, waktu aku kembali berniat menata hidup mencari jati diri bukan hanya pencitraan semata, di situ aku menemukanmu. Kau kusebut rumah. Karena kemana pun aku pergi padamu aku kembali. Bangunan minimalis, modern. Itu lah yang nampak pertama kali. Mungkin belum lama didirikan. Rumah itu.

Dari luar terlihat cukup teduh. Menarik untuk sebuah hunian. Memaksaku berhenti kemudian melihat-lihat setiap ruangan yang terdapat di sana. Tanpa sadar aku terlelap. Nyaman sekali. Itulah awalnya. Karena kauterus meyakinkan aku untuk tinggal, lambat laun aku pun luluh juga. Sejenak lupa dengan tujuanku sebelumnya. Mencari jati diri. Membangun mimpi.

Tetapi ada kalanya rumah itu seperti asing bagiku meskipun aku sudah lama tinggal di sana. Bangunan minimalis modern yang dulu menggemaskan itu, membuatku tidak betah, kini. Suatu ketika aku mendapati rumah dalam keadaan terang benderang. Dengan pencahayaan seperti itu mengisyaratkan bahwa penghuninya belum beranjak keperaduan. Aku berada di luar kala itu. Tubuhku basah kuyup. Aku … Aku …, tentu saja menggigil kedinginan saat hujan kembali menampar-nampar wajahku. Menghujam tubuhku. Aku butuh perlindungan di rumah itu, tetapi justru kau (rumah) tak segera membukakan pintu untukku. Kau membiarkan aku sendirian di luar.

Aku mengutukimu. Merutuki kesialanku. Menyalahkan semua-muanya. Aku berteriak tapi suaraku tertahan. Aku meronta namun sejatinya anggota tubuhku tak dapat bergerak. Aku limbung. Hilang dan tenggelam dalam dendam purba. Kesedihan dan penderitaan  menganak pinak yang justru dari situ lahirlah jiwa baru.

Aku menjelma menjadi sebatang pohon. Aku lah pohon itu. Dahan, ranting, dedaunan rindang–siap memberi perlindungan pada siapa saja yang membutuhkanku. Aku lah pohon itu. Dimana meskipun angin, hujan, terik mentari silih berganti menerpa, aku tetap berdiri kokoh di sana. Aku lah pohon itu yang jika kau memotong dahan atau ranting untuk kau jadikan api unggun demi menghangatkan seluruh penghuni rumahmu, aku rela melakukannya. Aku meminta upah? Tentu saja. Tetapi jangan khawatir, aku tak akan memepersulitmu. Cukup kirimi aku secarik doa yang kau rapal setiap saat ketika mengingatku. Upahi aku dengan seulas senyum. Senyum tulus luapan kegembiraan dan akulah yang mendatangkan kegembiraan itu.

Aku tidak butuh siapa-siapa untuk menggantungkan nasibku, kini. Aku hanya perlu berdiri pada pijakan yang kuat supaya akar-akarku bebas menjalar. Di mana ada pengharapan, aku akan hidup dan bertahan. Sebaiknya kusimpan perasaanku ini. Tentang pahit yang kusulap menjadi manis, di situ mungkin mereka melihatku sedang berpura-pura. Mencari pencitraan baik. Ya sudah jika sepicik itu pikiran kalian aku hanya turut prihatin saja. Tetap berbuat seperti biasa karena kebahagiaanku ada di dalamnya. Berbuat yang begitu untuk berinvestasi karena kelak aku membutuhkannya. Aku berjudi. Memasang taruhan dengan harapan mendapat hadiah besar yang datangnya dari Tuhan.

Aku sepohon kayu. Dan kau rumah. Rumah tetap membutuhkan kayu. Tapi pohon tidak butuh rumah. Dia tentu saja hidup liar di alam terbuka. Kau dan alam yang memaksaku menjadi seperti ini. Aku sepohon kayu, kini.

Taipe, 13 Januari 2014

MEREKA YANG TAK PERNAH MENYERAH

576178_442314982467482_397998886_n

Hai, Guys seperti yang sudah aku sampaikan tempo hari, selain cerpen yang jam tayangnya bisa kalian pantengin setiap Minggu malam, tips-tips seputar relationship yang hadir tiap Rabu—kali ini aku akan menulis artikel tentang peran ibu di balik kesuksesan keluarga.

Ladies, wanita terkadang hanya dianggap sebagai sosok di balik layar dalam keluarga. Mendukung suami, mengurus rumah sambil mendidik anak-anak yang rupanya telah menjadi suatu stereotip–melukiskan kaumnya. Pdahal selain itu wanita dapat menjadi sosok utama yang menggerakkan kegiatan perekonomian bernilai fantastis. Dilahirkan dengan paras nan rupawan tentu saja itu merupakan kebahagiaan serta kebanggaan. Namun kita tahu bahwa semuanya itu bukan jaminan kelak wanita bisa mendapatkan pasangan yang sesuai dengan yang dinginkannya jika kecantikan dari dalam diri tidak lebih menonjol dari apa yang bisa dilihat dari luar.

Kata Kak Fahd Pahdepie, “Cara berpikir, karakter, dan budi pekerti seorang istri akan membentuk keluarga dan membesarkan anak-anak, nanti. Sementara kecantikan, tubuhnya, serta status apa saja yang dimilikinya hanya akan membesarkan ego laki-laki.”

Nah, berarti kecantikan fisik bukanlah segalanya. Wanita cerdas lebih menarik dari pada wanita cantik. Syukur-syukur jika memiliki paras rupawan dibalut dengan budi pekerti yang mengagumkan. Woyooo!

Berikut ini beberapa contoh wanita hebat—apa yang telah mereka perjuangkan patut dijadikan motivasi bagi para calon ibu, maupun yang sudah menjadi ibu.
• NANCHY METTHEW. E
Dari pernikahannya, Nanchy Metthew. E dikarunia seorang bocah laki-laki. Kebetulan buah hatinya sedikit bodoh, serta pendengarannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Tuli. Suatu hari, ketika si anak berusia empat tahun—pulang sekolah membawa selebaran dari gurunya yang bertuliskan, ”Tommy, anak Ibu sangat bodoh. Kami minta Ibu mengeluarkan dia dari sekolah. Sang ibu terhenyak membaca isi surat tersebut. Namun ia segera membuat tekad yang teguh, “Anak saya Tommy bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”
Nanchy memutuskan untuk menjadi guru pribadi bagi Tommy di rumah. Ia berusaha memulihkan kepercayaan diri putranya tersebut. Hal itu mungkin sangat berat baginya namun ia tidak sekalipun membiarkan keterbatasan membuatnya berhenti. Siapa yang menyangka bocah bodoh dan tuli itu akhirnya menjadi seorang genius?!
Tommy tumbuh menjadi Thomas Alva Edison salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar tiga bulan dan secara fisik—tuli. Namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju. Tidak banyak yang mengenal NANCHY METTHEW EDISON, memang. Namun jika mendengar nama THOMAS ALVA EDISON semua langsung tahu bahwa dialah penemu paling berpengaruh dalam sejarah. Seorang penemu dengan 1.093 hak paten atas namanya.
• HEE KAP SUN
Hee Kap Sun seorang ibu asal Korea Selatan merupakan pahlwan bagi kehidupan anak gadisnya Hee Ah Lee yang terlahir dengan 4 jari. 2 di tangan kanan dan 2 di tangan kiri. Selain itu dia juga terlahir dengan kaki yang cacat yaitu kakinya hanya sampai lutut. Dan yang lebih menyedihkan lagi putrinya juga mengalami keterbelakangan mental. Bukan sampai di sini cobaan yang dihadapi Hee Ah Lee dan ibunya. Karena kondisi itu dia pun dijauhi keluarga besarnya.
Woo KaN Sun dengan kasih sayang penuh kesabaran akhirnya mencari sekolah piano untuk anaknya. Sayangnya banyak sekolah yang menolak Hee Ah Lee yang tidak sempurna itu. Namun ibunya tidak patah semangat. Ia terus berusaha mencari sekolah hingga ada yang menerima putrinya. Pada awalnya Hee mengalami banyak kesulitan. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya belajar bermain piano hanya dengan 4 jari dan kaki sampi lutut.
Untuk memainkan 1 buah lagu Hee Ah Lee harus belajar selama 10 jam lamanya. Dan untuk memainkan 1 buah lagu dengan notasi rumit dia harus belajar selama 5,5 tahun. Sang ibu sampai berhenti bekerja sebagai seorang perawat karena ingin selalu menemani anak gadisnya belajar—memberikan dukungan dengan sepenuh hati. Pada akhirnya perjuangan sang ibu membuahkan hasil. Gadis kelahiran 9 Juli 1985 bisa pentas di depan banyak orang dan membuktikan kepada dunia bahwa orang terlahir cacat juga bisa memiliki keahlian serta masa depan gemilang.
Album pertama yang dikeluarkan oleh Hee Ah Lee bertajuk “Hee Ah, A Pianist With Four Finger”. Dia juga sudah melakukan konser di beberapa Negara, seperti Amerika, Inggris, Jepang, China, Singapura, dan Indonesia.
• MUTIARA SITI FATIMAH
Ya, siapa sih yang tidak mengenal taksi? Padatnya penduduk di DKI Jakarta membuat alat transportasi menjadi fasilitas krusial yang diperlukan untuk memudahkan mobilitas penduduk. Taksi menjadi lebih spesial dibandingkan dengan alat transportasi umum lainnya. Begitu banyak brand-brand taksi hilir mudik di ibukota. Tetapi ada yang amat popular serta terkenal di kalangan masyarakat. Brand itu adalah BLUE BIRD.
Mungkin belum banyak yang mengenal sosok wanita tangguh sang pendiri Blue Bird. Dialah Alm. Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono. Wanita kelahiran Malang, 17 Oktober 1923 ini merengguk kesuksesan bisnis sebagai buah dari kerja keras dan perjuangan hidupnya. Masa sulit Mutiara dimulai sejak sang suami dipanggil Tuhan. Berbekal sebuah kendaraan bemo yang diwariskan oleh almarhum suaminya, mulailah sang putra sulung yang bernama Chandra Soeharto menjadi penopang ekonomi keluarga dengan mengemudikan bemo tersebut. Dengan sang adik Purnomo yang belum memiliki SIM bertugas menjadi kondektor bemo.
Karena jasa-jasa suaminya yang besar semasa hidup, Mutiara mendapatkan hadiah berupa dua mobil dari tentara dan polisi—pada tahun 1965. Dari situlah kemudian Mutiara serta ke dua anaknya memulai merintis usaha taksi yang diberi nama CHANDRA TAKSI. Karena dianggap belum berpengalaman izin mendirikan taksi pun tidak dapat dikeluarkan.
Mutiara tak kehabisan akal—meminta para pelanggan setia Chandra Taksi merekomendasikan layanan mereka. Akhirnya enam tahun beroperasi Chandra Taksi mendapatkan izin. Setelah izin dikantongi Mutiara beserta ke dua anaknya mendirikan perusahaan taksi yang diberi nama BLUE BIRD. Kini Blue Bird telah menggurita sebagai slah satu bisnis transportasi yang sukses. Blue Bird menjadi taksi pertama yang menggunakan argometer dan radio komunikasi pada kendaraan ber-AC.
• SUSAN WOJCICKI
Susan Wojcicki sebelumnya sudah memegang peranan penting di perusahaan YOUTUBE dengan menjabat sebagai Senior Vice President For Adsand Commerce. Dedikasi dan loyalitasnya pada perusahaan YouTube akhirnya membawanya naik ke tingkat pimpinan perusahaan tertinggi, menggantikan SALAR KAMANGAR yang telah menjabat CEO YouTube sejak tahun 2010.
Susan menyelesaikan jenjang sarjana di Havard Univesity pada tahun 1990 dan juga menerima gelar master ekonomi setelah menyelesaikan studi di University of California pada tahun 1993. Tak puas dengan dua gelar pertamanya, Susan juga memperoleh gelar master di bidang administrasi bisnis pada tahun 1998. Karena prestasinya yang sangat gemilang di perusahaan YouTube tak mengherankan jika wanita satu ini dipercaya memegang jabatan tertinggi. Melalui masa kepemimpinannya di divisi iklan perusaan YouTube—Susan berhasil meningkatkan pendapatan YouTube hingga mencapai angka US$5.6 milyar di tahun 2013.
Karena dedikasinya yang besar pada dunia teknologi, Susan pernah dianugerahi gelar sebagai salah satu “50 most powerfull women in business” versi Majalah Fortune pada 4 tahun berturut-turut (2010, 2011, 2012, 2013).

Taipe, 9 Januari 2015